Petunjuk Arah Pantai Watukodok
Petunjuk Arah Pantai Watukodok

Pedagang di Pantai Watukodok terusir Investor

OkeJoss.co – Keberpihakan pemerintah terhadap usaha kecil dan masyarakat lokal sepertinya masih kurang. Dimana para investor dan pemilik modal kadang lebih dipandang dan diutamakan dalam pemberian ijin usaha.

Seperti yang terjadi di kawasan Pantai Watukodok, puluhan masyarakat lokal di kawasan pantai tersebut yang terletak di Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari tengah resah menyusul beredarnya kabar rencana penggusuran tempat usaha dan juga rumah di sekitar kawasan tersebut.

Warga sekitar yang puluhan tahun sudah menjadi penghuni kawasan tersebut segera diminta untuk membongkar rumahnya dan pindah dari lokasi karena akan segera dibangun restaurant dan hotel oleh salah satu investror dari Jakarta.

“Masyarakat sangat keberatan untuk membongkar bangunan dan pindah dari lokasi, karena tanah Sultan Ground (SG) sudah ditempati sejak puluhan tahun,” kata Sumarno Ketua Kelompok Masyarakat Watukodok di tempat usahanya, Jumat (22/05/2015).

Sumarno yang didampingi beberapa warga lainnya menambahkan, Pantai Watukodok bisa menjadi objek wisata karena perjuangan warga yang saat ini berdomisili di tempat tersebut, termasuk pembangunan jalana atas gotong royong warga. Tetapi begitu lokasi sudah jadi, tahu-tahu akan dibangun hotel dan restoran tanpa pemberitahuan lebih dahulu.

Rabu (20/05/2015) warga diundang ke Rumah Penginapan di Baron yang intinya tanah SG di Watukodok akan dibangun restoran dan penginapan oleh investor dari Jakarta. Pihak investor mengantongi surat perjanjian yang dikeluarkan oleh Kawedanan Hageng Punokawan Wahono Sarto Kriyo Karaton Ngayogyakarta Nomor 020/HT/KPK/2013 tertanggal 27 Juli 2013 yang ditandatangani KGPH Hadiwinoto.

Namun, kata Sumarno, sebelum terbit surat ijin dari Panitikismo warga tidak pernah diajak musyawarah atau disosialisaikan. Hanya sebelum ada pertemuan di Baron, datang seorang pengacara bersama pejabat dari Pemkab Gunungkidul yang intinya di Pantai Watukodok seluas 19.354 meter persegi atau hampir 2 hektare ini akan dibangun restoran dan penginapan. Warga diminta mengosongkan lahan dan tidak boleh lagi ada yang membuka usaha, setelah usaha restaurant jadi warga boleh menjadi buruh di tempat usaha tersebut.

Menurut beberapa warga, jika hanya dijadikan buruh warga sangat keberatan. Mereka merasa membuka tempat wisata ini namun setelah jadi justru malah dijadikan buruh. “Kami minta ada kebijakan dari pihak Kraton dan Pemkab Gunungkidul untuk mencarikan solusi, jika memang diijinkan untuk investor jangan sampai seluruh tanah SG yang ada, tetapi hanya sebagian, sehingga warga masih ada kesempatan untuk mengelolanya,” pintanya.

Comments

comments

Comments are closed.

Kata kunci : ,