Ilustrasi Korupsi Tikus
Ilustrasi Korupsi Tikus

Bawaslu Jatim Tersandung Kasus Korupsi Dana Hibah

OkeJoss.co – Kasus korupsi dapat menjangkiti siapa saja, pejabat publik yang seharusnya mengemban amanat untuk melayani rakyat malah banyak yang kedapatan memakan uang rakat untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Seperti yang sedang terjadi pada institusi Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) di Jawa Timur. Bawaslu Jatim yang mempunyai mandat untuk memastikan Pemilihan Umum berjalan jujur dan adil itu sedang tersandung masalah korupsi dana hibah.

Dikabarkan oleh Indopos, seluruh anggota dan pimpinan di institusi tersebut telah ditetapkan sebagai tersangka korupsi dana hibah. Terdapat enam orang ditetapkan sebagai tersangka. Penetapan tersebut dinyatakan oleh Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jatim.

Para tersangka itu, antara lain, Ketua Bawaslu Jatim Sufyanto dan dua anggotanya, yakni Sri Sugeng Pudjiatmoko dan Andreas Pardede. Lalu, ada Gatot Sugeng Widodo (bendahara) dan M. Amru (sekretaris). Satu orang lagi adalah rekanan Bawaslu Jatim berinisial IDY. “Kasus ini sudah naik ke tahap penyidikan.

Hari ini (kemarin, Red) kami lakukan pemeriksaan awal,” jelas Ditreskimsus Polda Jatim Kombespol Idris Kadir. Untuk kali pertama, Amru memenuhi panggilan polisi sebagai tersangka kemarin (19/5). Dia diperiksa untuk menjelaskan aliran dana hibah yang diselewengkan. Berdasar hasil audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), total kerugian negara mencapai Rp 5,6 miliar.

Berdasar hasil penyidikan Subdit III Tipikor Ditreskrimsus Polda Jatim, para tersangka terbukti melakukan beragam kecurangan. Di antaranya, penandatanganan kontrak fiktif serta mark-up pengadaan barang dan jasa. Para tersangka juga dituding secara sengaja mengubah rencana anggaran biaya. Mereka juga dianggap bersalah karena tidak mengembalikan uang negara. “Dana silpa (sisa lebih pembiayaan anggaran, Red) juga tidak disetorkan,” imbuh Idris.

Dia menjelaskan, polisi juga menemukan beberapa kegiatan yang diduga fiktif. Misalnya, Bawaslu mengadakan beberapa kali rapat maupun konsolidasi di hotel. Mereka melaporkan acara tersebut berlangsung seminggu. Padahal, realisasinya hanya tiga hari. Di hadapan penyidik, Amru berusaha mengelak dan membela diri. Meski begitu, polisi tidak ragu untuk mengambil tindakan tegas. “Untuk mempercepat proses, kami lakukan upaya paksa (menahan Amru, Red),” ujar Idris.

Comments

comments

Comments are closed.

Kata kunci : , ,