Sekjen PBB Intervensi hukuman mati di Indonesia, anggota DPR kecewa

OkeJoss.co – Jelang eksekusi hukuman mati terhadap para terpidana kasus narkotika dan obat-obatan terlarang yang akan dilakukan oleh pemerintah Indonesia, beberapa pihak asing berusaha untuk melakukan intervensi terhadap kebijakan yang akan dilakukan.

Setelah pemerintah Prancis, Australia, Brazil dan Filipina yang melakukan intervensi dengan mencoba untuk melakukan negosiasi dan peninjauan kembali, kini intervensi dilakukan oleh Sekretaris Jenderal Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) Ban Ki-moon.

Ban Ki-moon sendiri sempat mengeluarkan pernyataan dan meminta kepada Pemerintah Indonesia agar membatalkan pelaksanaan hukuman mati terhadap sejumlah terpidana narkoba.

Atas pernyataan tersebut, banyak pihak yang menyayangkan sikap dari Sekjen PBB tersebut. Jika sebelumnya Guru Besar Hukum Internasional UI Hikmahanto Juwana yang berkomentar, maka kali ini kekecewaan terhadap pernyataan Ban Ki-moon datang dari Anggota Komisi I DPR RI, TB. Hasanuddin.

TB. Hasanuddin sangat menyesalkan pernyataan sekjen PBB tersebut dan merasa jika sebagai Sekjen PBB, Ban Ki-moon sangat tidak pantas melakukan intervensi terhadap hukum yang ada di sebuah negara.

“Pernyataan Sekjen PBB Ban Ki-moon tentang pelaksanaan hukuman mati terhadap 10 orang gembong narkoba sangat kita sesalkan,” kata TB Hasanuddin.

“Tak lazim seorang Sekjen PBB ikut campur dalam proses penegakan hukum di sebuah negara yang berdaulat seperti Indonesia. Hukuman mati adalah hukum positif yang berlaku di Indonesia dan keputusan hakim adalah sah,” kata Hasanuddin.

Hasanuddin yang merupakan purnawirawan TNI AD itu juga menambahkan jika dengan sikap yang ditunjukkan oleh Ban Ki-moon itu semakin menunjukkan bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa sangat mudah diintervensi oleh negara-negara besar.

“Sikap Ban Ki-moon tersebut mengisyaratkan bahwa memang benar PBB mudah diintervensi oleh negara-negara besar untuk kepentingan politiknya seperti oleh Australia, Prancis, dan sebagainya,” sebut Hasanuddin.

Seperti telah diketahui, 10 terpidana mati yang akan dieksekusi dalam waktu dekat adalah Andrew Chan dan Myuran Sukumaran (keduanya WN Australia), Martin Anderson (WN Ghana), Raheem Agbaje Salami (WN Spanyol), Rodrigo Gularte (WN Brasil), Sylvester Obieke Nwolise (WN Nigeria), Serge Areski Atlaoui (WN Prancis), Okwudili Oyatanze (WN Nigeria), Zainal Abidin (WN Indonesia) dan yang terakhir Mary Jane Fiesta Veloso (WN Filipina).

Namun dari 10 terpidana mati tersebut, kini tersisa 9 terpidana mati. Pasalnya, dengan bantuan dari presiden Prancis, Francois Hollande, terpidana mati asal Prancis Serge Areski Atlaoui terbebas sementara dari eksekusi mati yang akan dilakukan oleh jaksa eksekutor.

Comments are closed.

Kata kunci : , , ,