Petani Merugi Karena Intensitas Hujan Yang Cukup Tinggi

OkeJoss.co – Belum dapat diprediksinya iklim dan cuaca akhir-akhir ini membuat para petani harus mengatur ulang strategi menanam mereka. Masih tingginya curah hujan mengakibatkan banyak tanaman padi yang roboh dan rusak. Hal tersebut mengakibatkan petani padi terpaksa panen lebih awal. Salah satu petani Desa Bawang, Waginah mengatakan, batang padi tidak kuat menahan terpaan angin dan banyak yang roboh.

Petani khawatir padi akan membusuk karena sudah terendam air sehingga panen dilakukan lebih awal. Padahal, lanjutnya, masa panen masih 15 hari lagi. Namun usia padi yang baru mencapai 75 hari ini sudah harus dipanen. “Kalau dibiarkan nanti busuk malah rugi lebih banyak lagi,”katanya.

Akibatnya, hasil panen padi turun hingga 50 persen dari hasil normal. “Seperempat hektar biasanya bisa menghasilkan 1,8 ton, kalau sekarang cuma 9 kuintal saja,”imbuhnya. Lagi-lagi petani kembali merugi karena selain kuantitas turun, kualitas gabah juga ikut menurun.

Hal tersebut mempengaruhi harga pasaran beras saat ini yang selalu turun. “Hasilnya tidak cukup untuk menutup kos produksi apalagi untuk balik modal,”keluhnya. “Harga beras turun lagi, yang tadinya Rp 8.000 ke atas, sekarang sudah Rp 7.000. Pembeli menurun dari sebelumnya,” ungkap Misrigah, salah satu penjual sembako di Pasar Induk Bajarnegara.

Intensitas hujan yang cukup tinggi juga mengakibatkan gagal panennya petani bawang di Jogja juga merugi. Kerugian cukup mencolok terjadi di 250 hektar areal luasan lahan bawang merah di Bantul, luasan lahan padi kurang dari 10 hektar di Bantul dan luasan lahan padi di Kulonprogo yang masih didata hingga saat ini.

Kepala Dinas Pertanian DIY, Sasongko mengatakan estimasi total kerugian yang dialami luasan lahan pertanian baik padi maupun bawang merah di dua kabupaten terdampak akibat hujan lebat ini masih dilakukan pendataan lebih dalam lagi. Khususnya untuk kerugian petani bawang merah di Bantul mengingat usia bawang menentukan besar kecilnya kerugian yang dialami, sedangkan untuk lahan pertanian pagi relatif tidak terlau signifikan di Bantul maupun Kulonprogo.

“Saya baru mendapatkan laporan secara umum, khususnya untuk bawang merah yang terdampak 250 hektar di Bantul. Karena umur menentukan tingkat kerugiaan yang dialami petani bawang merah, maka akan didata lebih lanjut karena tidak bisa disamakan besaran kerugiannya,” ujar Sasongko kepada KRjogja.com, Minggu (10/5)

Sasongko menjelaskan semakin siap panen, maka harga bawang merah tersebut akan lebih mahal dari yang masih muda. Sebab bawang merah usia muda masih belum banyak diberikan pupuk dan tenaga kerja. Estimasi kerugian bawang merah diprediksi mencapai sekitar Rp 50 juta per hektar, namun angka tersebut masih tentatif.Perlu diketahui lahan persawahan di Bantul dan Kulonprogo terletak di hilir atau muara sungai sehingga resiko terendam air cukup tinggi.

“Kita akan hitung lebih rinci lagi semuanya jadi belum bisa di total estimasi kerugian sampai data lengkapnya masuk,” katanya.

Lebih lanjut disampaikan, apabila kerugian tersebut tidak terlalu besar maka bisa ditanggung oleh kabupaten langsung misalnya bantuan bibit sebanyak 25 kilogram per hektar. Apabila kerugian cukup besar dan mengakibatkan gagal panen maka bisa dibantu oleh provinsi maupun pusat nantinya. Sejauh ini dioptimalkan terlebih dahulu bantuan dari masing-masing kabupaten, Distan DIY sendiri sejuah ini terus memberikan pendampingan kepada petani dan fasilitasi alat apabila dibutuhkan.

“Dengan luasan hanya 250 hektar dan 10 hektar luasan lahan pertanian yang terkena dampak ini maka ganti rugi gagal panen nantinya akan diserahkan kepada masing-masing kabupaten setempat,” pungkas Sasongko.

Comments are closed.

Kata kunci : , , , , ,