Kasus Human Trafficking di Jawa Barat butuh penanganan serius

TuguPost.com – Human Trafficking atau perdagangan manusia menjadi isu yang sering dikaitkan dengan masalah latar belakang ekonomi dan pendidikan para korban hal itu. Serupa yang terjadi dengan berbagai kasus yang terjadi di Jawa Barat (Jabar) khususnya Sukabumi yang menjadi sorotan banyak pihak dan membutuhkan penanganan yang cukup serius.

Kasus yang paling sering menyeret kaum hawa tersebut kian hari kian subur terjadi. Dari data tahun 2012 saja, di Kota Sukabumi jenis kasusnya bervariatif, tidak hanya trafficking, tapi sudah masuk ke kekerasan seksual, penganiayaan, penelantaran, dan perzinahan. Sekretaris Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Sukabumi, Joko Kristiyanto mengungkapkan, tahun lalu kasus trafficking yang melapor ke lembaganya hanya empat kasus.

Sementara pada 2015 hingga April ini baru melapor dua kasus, terakhir kasus yang menimpa Rena Agustin (21) Warga Kecamatan Gunungpuyuh, Kota Sukabumi yang menjadi korban perdagangan manusia. Berdasarkan penelusuran, kasus trafficking di Kota Mochi ini biasanya diiming-imingi pekerjaan dengan upah yang besar.

Tapi, kenyataannya penempatan kerja korban tak sesuai perjanjian. Bahkan, ada korban yang sengaja dijual untuk menjadi Pekerja Seks Komersial (PSK). “Modusnya banyak, tetapi awalnya dia menawari pekerjaan dengan upah yang besar, di kotakota besar sebagai pelayan namun nyatanya korban biasanya dijual untuk menjadi PSK, bahkan ada juga yang korbannya ditinggalkan kemudian hidup luntang-lantung,” terangnya. Menurut Joko, kasus yang terjadi pada perempuan terus mengalami perkembangan setiap tahunnya.

Terbukti, dari 2012 banyak perkembangan kasus yang dialami oleh perempuan, seperti kasus trafficking, kekerasan seksual, penganiayaan penelantaran, dan perzinahan. Memang dari tahun ke tahun perkembangan kasus semakin bervariatif. Namun dari dua tahun terkahir ini kita banyak menangani kasus trafficking, untuk KDRT pun sebenarnya banyak hanya saja korban tidak berani melapor lantaran kasus intern,” ujarnya.
Berbagai faktor melatarbelakangi situasi ini. Misalnya, tingginya tingkat kemiskinan, rendahnya pendidikan, budaya ingin cepat kaya dan minimnya peluang untuk bekerja.

Comments are closed.

Kata kunci : ,