DIY Siapkan SIstem Pengolahan Sampah Menjadi Energi

OkeJoss.co – Untuk membuat sistem pengolahan sampah menjadi energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bekerjasama dengan Trade Coorporation Facility (TCF) Uni Eropa-Indonesia untuk bersama mengolah sampah menjadi energi atau yang juga disebutWaste to Energy (WtE). Lokasi yang dipiliha adalah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan.

Daerah Piyungan, Yoyakarta memang dikenal sebagai TPA terbesar di Jogja. Hampir semua sampah-sampah dari Jogja berakhir ditempat tersebut sebelum diolah lebih lanjut. Opsi yang diberikan dari hasil technical assessment untuk WtE di DIY yaitu teknologi pengelolaan sampah menjadi energi Refused Derived Fuel (RDF) for Sale dan Anaerobic Digestion (AD) to Power yang dapat dikaji dalam studi kelayakan lebih rinci.

TCF telah memobilisasi tim ahli untuk melakukan kajian teknis di DIY sejak Januari 2014 bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Energi Sumber Daya Mineral (PUP ESDM) DIY. TCF bertugas memperkuat lembaga pemerintahan dalam mengembangkan iklim perdagangan dan investasi di tanah air serta memberikan kontribusi pembangunan ekonomi jangka panjang berkelanjutan.

“DIY telah sangat aktif dan mempromosikan dan mengembangkan WtE di Indonesia, hasil kajian ini memberikan informasi obyektif dan acuan untuk diaplikasikan dalam waktu dekat ini. DIY juga akan menjadi pilot project atau percontohan yang pertam dalam mengembangkan sampah menjadi energi bagi daerah-daerah lainnya nanti di Indonesia,” ujar Team Leader TCF Uni Eropa, Joe Miller di The Phoenix Hotel Yogyakarta, Jumat (1/5/2015).

Joe menjelaskan lokasi TPA Piyungan sangat menguntungkan dalam banyak hal, yaitu dekat dengan wilayah perkotaan untuk meminimalkan biaya transportasi dan dengan hanya beberapa masyarakat yang tinggal disekitarnta serta adanya lahan untuk perluasan. Namun, para ahli TCF mengidentifikasi kendala operasional dan pemeliharaan pengelolaan sampah di TPA Piyungan. Antara lain pengendalian air lindi belum baik, isu kesehatan dan keselamatan sosial, kurangnya Standart Operasing Prosedure (SOP) dan minimnya managemen pengelolaan sampah.

“Jika TPA nantinya dapat dikembangkan, maka akan terdapar kesemparan untuk melaksanakan pengelolaan limbah yanf baik sesuai kaidah lingkungan. Fasilitas Daur Ulang Material, TPA, Instalasi Pengolahan Air Lindi dan fasilitas pengelolaan sampah menjadi energi ini juga bisa melibatkan peran serta akademisi maupun masyarakar pada umumnya,” tuturnya.

Lebih lanjut dipaparkan Joe, teknogi RDF ini berupa sampah dikeringkan dan dicacah atau dijadikan bentuk butiran untuk digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik termal yang efektif mengurangi volume sampah. Sedangkan teknologi AD berupa sampah organik ditampung dalam tangki tanpa oksigen dan diuraikan bakteri untuk menghasilkan gas metane, yang kemudian disalurkan melalui pipa gas generator untuk menghasilkan listrik.

“Bahan bakunya melimpah di DIY, bukan hanya dari limbah Sisa Municipal padat limbah (MSW) atau limbah rumah tangga tetapi juga dari limbah pertanian. Teknologi AD ini sudah terbukti di berbagai negara, murah, serta emisi dan gas rumah kacanya rendah,” imbuh Joe.

Kepala Dinas PUP ESDM DIY, Rani Sjamsinarsi menambahkan sebelum 2015, pengumpulan, transportasi dan pembuangan sampah dikelola Sekretariat Bersama Kartamantul yaitu Yogyakarta, Sleman dan Bantul, setelahnya kini ada dibawah dinasnya. TPA Piyungan diprediksi yang mampu bertahan hingga 2018 ini harus segera dimanfaatkan sampahnya menjadi energi.

“Tahun ini kami menyiapkan anggaran Rp 9 miliar untuk pengelolaan sampah dan tahun depan ditargetkan memperluas lahan sebesar 2 hektar di TPA Piyungan yang rata-rata menghasilkan 500 ton sampah per hari tersebut. Kami siap bekerjasama dengan TCF setelah perluasan lahan dilakukan dan studi kelayakan selesai,” pungkas Rani.

Comments are closed.

Kata kunci : , , ,