AJI Makassar desak Gaji Wartawan Rp 6,5 Juta

OkeJoss.co – Komunitas pekerja media yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar, menggelar sebuah aksi di fly-over Makassar, guna memperingati Hari Buruh atau May Day, besok. Upah wartawan saat ini dirasa masih jauh dari layak, bahkan hanya sebesar Rp1 juta per bulannya.

Dalam aksi tersebut, para pekerja media tersebut menyerukan adanya pemenuhan upah yang lebih layak bagi jurnalis di Indonesia. Bagi-bagi uang kertas fotocopy dalam bantuk pecahan Rp1.000 dijadikan sindiran untuk para pemilik perusahaan media yang dirasa menggaji para wartawan hanay dengan nilai yang kecil.

Aksi unjuk rasa ini hanya diikuti sekira 15 wartawan, tetapi pemilihan lokasi aksi cukup strategis sehingga cukup menarik perhatian pengguna jalan yang melintas.

Sebagaimana yang pernah dirilis AJI Jakarta, upah layak jurnalis tahun 2015 seharusnya Rp6,5 juta per bulan. Tetapi faktanya ternyata banyak jurnalis yang diupah di bawah Rp2 juta.

“Bahkan di Makassar ada jurnalis yang diberi upah sangat rendah, kurang dari Rp1 juta,” kata Nurdin Amir, koordinator aksi seperti ditulis Okezone, Kamis (30/04/2015).

Seperti pemaparan yang dicantumkan dalam selebaran yang dibagikan ke pengguna jalan, masih banyak media nasional yang menggunakan kontributor, stringer, tuyul dan sejenisnya untuk menghindari upah layak bagi mereka. Akibatnya, tingkat kesejahteraan jurnalis rendah.

Dikritisinya sejumlah perusahaan media di tingkat lokal yang rata-rata mengaji wartawanya di bawah UMP karena profesi jurnalis butuh biaya operasional yang cukup tinggi.

“Jurnalis butuh asuransi kesehatan, jaminan hari tua, gaji pokok, uang makan dan lain-lain. Tapi hal ini, tidak menjadi perhatian banyak perusahaan media,” kata Nurdin Amir.

Ditambahkannya, lantaran tingkat kesejahteraan wartawan yang sangat rendah membuat pola hidup jurnalis gali lubang tutup lubang. Upah rendah, kebutuhan tinggi membuat besar pasak dari pada tiang.

“Ini yang membuat para jurnalis yang memiliki idealisme setengah hati, dan mudah menjual profesionalisme dan idealismenya demi mencukupi kebutuhan yang tidak dipenuhi oleh perusahaan media tempatnya bekerja,” kata Nurdin Amir.

Comments are closed.

Kata kunci : ,